Miris” Proyek Wisata Way Tayas Sukaraja, Diduga Dimark-Up Dan Tidak Transparan

Kalianda LamSel – Diduga proyek wisata Way Tayas Desa Sukaraja Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) di Mark-Up dan tidak Transparan, karena dari nota catatan pembelian bahan Matrial bangunan tidak ada dan riciannya pun tidak ada, Selasa (5/3/2024).

Sehingga dalam hal tersebut, Media ini ikut menyoroti atas pembangunan tersebut, sampai pengelola pekerjaan itu yang berinisial TN selaku Ketua Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Desa Sukaraja Rajabasa Lamsel lari dari kenyataan dan menghilang tidak ada di tempat dikediamannya.

Pembangunan teesebut ialah diduga tidak sesuai dengan Speck yang kuat dan jelas. Karena Proyek wisata tersebut menghabiskan dana Anggaran Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dari Bank Dunia yang dikelola oleh Kehutanan Provinsi yang tidak sesuai fakta dilapangan.

Bahkan, ketua pekerja proyek tersebut atau Ketua KUPS inisial TN ketika dikonfirmasi dari media tersebut, tidak bisa dapat menjelaskannya dengan tepat. Sehingga marah-marah dan mengamuk menghacurkan kursi saat di minta keterangan dalam hal tersebut, bahkan saat ini TN selaku Ketua KUPS tersebut menghilang setelah dikonfirmasi.

Menurut keterangannya dari Masyarakat setempat, TN ikut dengan istrinya ke Daerah Kabupaten Tanggamus Kecamatan Kota Agung. Bahkan anaknya pun yang masih sekolah sudah dipindahkan semua semenjak kejadian tersebut.

Adapun keterangan dari inisial AH selaku Bendahara KUPS, membenarkan jika TN sebagai Ketua KUPS tidak ada di Tempat, bahkan ketika Tim Media ini menanyakan pembukuan dan rincian serta pengeluarannya. Namun AH selaku Bendahara KUPS tidak bisa dapat menjelaskannya juga secara terang.

Karena menurut AH, semua pembelian Matrial proyek itu di kelola oleh TN semua. Dan Ketika Media ini menanyakan sekretaris KUPS kepada AH, lalu AH mengatakan bahwa, “waktu pelaksanaan sekertaris KUPS tidak ada ditempat juga, karena sedang ke Pulau Jawa,” katanya.

Dan menurut ungkapkan semua pihak yang mengerjakan dalam proyek tersebut saat Tim Media ini berinvestigasi secara tatap muka dihadapan mereka adalah mengimbuhkan.

Dan bahwa AH juga membenarkan, “untuk pengerjaan nya, semua dilakukan dan dimanfaatkan oleh TN, bahkan lima (5) orang pekerja dalam pembangunan Gazebo tidak mengetahui Anggaran pergazebu.”

“Dan meraka hanya menerima upah pergazebo senilai Rp.500.000 (lima ratus ribu rupiah) per satu orang dalam pengerjaan selama dua (2) Bulan,” ungkap mereka saat berkumpul ditemui Tim Media ini di Gardu Desa Sukaraja.

Adapun Ketua KUPS dalam hal pembangunan tersebut sebelum kami bertemu kima (5) orang pekerja tersebut berikut bertemu dengan AH.

Berinisial TN adalah berdomisili warga setempat itu, yang membelanjakan Anggaran yang berkaitan dengan Pemerintah setempat tidak Transpansi, yang tidak ada kejelasan yang pasti dari TN, serta bawaha nya pun (Sekertaris, Bendahara) tidak mengetahui jika TN membelanjakan Anggar-anggaran terkait.

Kemudian, TN saat di Konfirmasi Media/Tim secara tatap muka dikediamannya. Merasa sangat Risih dan mengamuk saat Awak Media dan Tim mempertanyakan hal-hal pembangunan tersebut.

“Ya itukan memang kegiatan-kegiatan swakelola. Artinya kegiatan Kelompok untuk perbaikan pariwisata, bukan proyek, yang dihibahkan ke WSSP, dan yang punya proyek bukan kita, dan kalau ingin informasi selanjutnya ya silahkan ke WSSP, jadi kami ini cuma dikasih kegiatannya aja. Walaupun ada nominalnya sedikit-sedikit,” kata TN.

Lanjut dia, “dan sampai hari ini pun kegiatan tersebut sudah terlaksana, dalam hal kegiatan yang tidak terencanakan,” ujarnya.

Dibeberapa menit kemudian, entah apa yang merasuki diri TN. Sehingga ia sampai mengamuk sampai teriak-teriak sepeeti kebakaran jenggot sambil menendang kursi berbahan plastik di rumahnya itu sendiri, dan terkesan tidak menghargai tamu yang ingin Konfirmasi terkait dalam hal tersebut.

“Entah itu sudah masuk seratus persen atau belum dalam kegiatan itu. Ya itu bukan urusan kalian. Dan kami sudah membangun Loket untuk Tiket.”

“Intinya yang mau ngeberesin itu, dan bertanggung jawab itu adalah AEp Saifuloh. Dia juga bilang begitu dulu ke saya, katanya AEp ‘kang nanti itu saya yang ngeberesin’ kata dia (AEp), bukanya acak-acakan.”

“Karena kita tidak menggunakan metode memakai Semen. Karena dalam hal ini tidak ada yang saling menguntungkan, akan tepapi, sebab ini adalah menggunakan semy permanen.”

“Jadi salahnya itu dimana. Itu kegiatan tersebut bukan melalui Dinas Pariwisata, tetapi melalui Dinas Kehutanan,” cetusnya.

Masih teriakan TN, “kalau skup dari kehutanan itu, yaitu skup nya di KUPS. Kalau Pokdarwis itu hanya baru se umuran jagung, kalau masalah peraturan-peraturan apalah itu, saya enggak pakai itu.”

“Lo orang dateng kesini nantang ya, siapapun yang membidangi dalam hal ini, bawa kesini. Jangan ngorek-korek kegiatan saya,” ucapnya sambil menampar-nampar lantai dirumahnya.

Tambah dia, “kalian ini kerjanya cuan ngorek-orek itu aja. Dan kalian ini bukan ngelurusin dan ga perlu kalian lurusin, karna ini urusan saya. Siapa pun yang datang kesini, bawa sini. Saya ga Takut, Setan kalian datang kesini.”

“Apa ini yang mau di lurusin tidak ada. Saya ga perlu bantuan dari kalian, pergi kalian dari sini. Dari pada saya acak-acak semuanya, Dasar LSM cari duit,” ujar TN sambil menendang dan memecahkan kursi-kursi dikediamannya. (Tim)

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Verified by MonsterInsights