Sidoarjo – Praktik perjudian di wilayah Sedati, Sidoarjo, benar-benar telah mencapai level arogansi yang tak tertandingi. Seolah menganggap hukum hanya sekadar hiasan dinding, para pengelola arena judi sabung ayam di Pepe Kwangsan ini dikabarkan tidak hanya sekadar beroperasi, melainkan siap menggelar hajatan judi skala nasional.
Berdasarkan bukti pesan singkat yang beredar luas, arena tersebut dilaporkan kembali beroperasi penuh pada hari ini, Kamis. Namun yang lebih mengejutkan adalah rencana besar pada Minggu, 5 April mendatang yang diklaim sebagai ajang pertemuan elit para penjudi.
Dalam pesan tersebut, tertulis dengan jelas undangan bagi para Big Bos seluruh Indonesia untuk hadir di arena Sedati. Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi kredibilitas Polresta Sidoarjo dan Puspomal.
Bagaimana mungkin sebuah kegiatan kriminal yang direncanakan secara terbuka dan melibatkan jaringan nasional bisa terendus oleh publik, namun seolah luput dari pantauan aparat penegak hukum?
”Hari ini Kamis full ramenya. Untuk hari Minggu tgl 5 April undangan nasional khusus big bos seluruh Indonesia,” bunyi petikan pesan yang menggegerkan tersebut.
Pesan tersebut juga mengungkap sisi gelap koordinasi di lapangan. Muncul nama-nama yang diduga sebagai pengelola utama, yakni Bang Napi, Bang Agus, hingga sosok yang disebut sebagai bos besar, Mrs. Yoyok.
Lebih miris lagi, pesan itu secara terang-terangan menyarankan agar aliran dana atensi langsung menuju pengelola karena adanya dugaan pemotongan jatah oleh pihak penengah. Hal ini secara implisit mengonfirmasi bahwa selama ini diduga kuat ada aliran dana haram yang mengalir untuk mengamankan bisnis maksiat ini.
Kini publik bertanya-tanya, Siapa sebenarnya di balik Mrs. Yoyok, Bang Agus, dan Bang Napi? Seberapa kuat tembok raksasa yang membentengi mereka hingga berani mengundang pemain judi se-Indonesia ke Sidoarjo?
Jika pada Minggu, 5 April nanti, acara Undangan Nasional tersebut benar-benar terlaksana tanpa ada pembubaran paksa dan penangkapan, maka hukum di Sidoarjo secara de facto telah mati. Slogan Presisi dan Sapta Marga hanya akan menjadi komoditi bibir semata sementara aparat dianggap telah bertekuk lutut di bawah kaki bandar judi.
Masyarakat kini mendesak Panglima TNI dan Kapolri untuk segera mengirimkan tim khusus dari pusat. Jangan biarkan Sidoarjo menjadi zona nyaman bagi kriminalitas berskala nasional hanya karena oknum-oknum di tingkat lokal diduga telah kenyang oleh suapan.
Dalam hal ini, Redaksi media ini akan terus memantau pergerakan di lokasi hingga tanggal 5 April. Jika debu taruhan tetap mengepul, maka sudah saatnya rakyat mempertanyakan, Masihkah Indonesia negara hukum, atau negara para bandar.?
Presiden Dikhianati, Panglima Dilecehkan! Markas Judi Sedati Oknum TNI AL bersama Kroninya Terus Berlanjut









