Berita  

Banyuwangi Darurat Jalan Rusak, Penghargaan Terus Dipajang. Raden Sebut Bupati Hanya Boneka Kekuasaan!

Banyuwangi – Aktivis Filsafat Logika Berpikir, Raden Teguh Firmansyah, melontarkan kritik yang sangat keras terhadap kepemimpinan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani. Ia menilai pemerintahan daerah saat ini lebih sibuk membangun citra melalui seremoni, penghargaan, dan panggung-panggung event, sementara persoalan mendasar rakyat seperti jalan rusak justru dibiarkan menjadi pemandangan sehari-hari.

Menurut Raden Teguh, kondisi banyaknya ruas jalan rusak di berbagai wilayah Banyuwangi adalah bukti nyata kegagalan prioritas pemerintahan daerah.

“Logika berpikir masyarakat tidak bisa terus ditipu oleh parade penghargaan. Jalan-jalan di Banyuwangi banyak yang rusak, berlubang, dan membahayakan warga. Tapi anehnya, bupatinya justru terus dipromosikan sebagai pemimpin penuh prestasi. Ini ironi yang sangat memalukan,” tegas Raden Teguh. Jum’at. 13 Maret 2026.

Ia bahkan menyebut kepemimpinan di Banyuwangi saat ini terlihat seperti “pemerintahan robotik” yang kehilangan independensi, karena menurutnya bayang-bayang kekuasaan mantan bupati yang juga suami dari Ipuk, Abdullah Azwar Anas, masih sangat kuat dalam mengendalikan arah pemerintahan.

“Publik berhak bertanya secara jujur. Banyuwangi ini dipimpin oleh seorang bupati yang benar-benar mengambil keputusan, atau hanya menjalankan tombol yang ditekan dari belakang layar?” ujarnya tajam.

Raden Teguh juga menilai bahwa terlalu banyaknya seremoni dan penghargaan justru menunjukkan kecenderungan pemerintah lebih sibuk membangun citra dibanding menyelesaikan persoalan riil masyarakat.

“Jika jalan-jalan rusak saja tidak mampu diselesaikan dengan serius, lalu apa sebenarnya yang sedang dibangun Apakah birokrasi untuk melayani rakyat, atau hanya panggung kekuasaan untuk memuaskan ambisi keluarga politik?” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa kritik ini lahir dari kegelisahan intelektual atas kondisi Banyuwangi yang menurutnya semakin jauh dari prinsip kepemimpinan rasional.

“Dalam filsafat logika berpikir, pemimpin diukur dari realitas yang dirasakan rakyat, bukan dari panggung penghargaan. Jika rakyat masih berkutat dengan jalan rusak, maka setiap penghargaan itu hanya terlihat seperti topeng yang menutupi kegagalan,” pungkas Raden Teguh.

Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk berhenti tenggelam dalam euforia seremoni dan segera kembali pada prioritas utama: memperbaiki infrastruktur serta membuktikan bahwa kekuasaan benar-benar bekerja untuk rakyat, bukan sekadar menjaga citra kekuasaan.

Tinggalkan Balasan