Berita  

Permasalahan Pengelolaan Masjid An-Nahdla Bojonegoro Jadi Sorotan Warga

Bojonegoro – Masjid An-Nahdla, ikon baru kebanggaan masyarakat Bojonegoro, kini tengah menghadapi sejumlah permasalahan yang menjadi sorotan publik.

Meskipun dibangun dengan anggaran besar dan desain megah, pengelolaannya dinilai masih belum terorganisir dengan baik dan pembangunan tersebut belum mencapai 100%, sehingga menimbulkan keresahan di kalangan warga.

Belum Ada Serah Terima dan Kepengurusan Takmir yang Jelas
Masjid An-Nahdla mulai dibangun pada tahun 2021 dan selesai pada 2023 dengan anggaran sebesar Rp113,45 miliar yang bersumber dari APBD Bojonegoro.Masjid ini dirancang oleh Abdullah Ahmed Abdat, seorang arsitek asal Arab Saudi yang berdomisili di Jakarta.

Namun, hingga saat ini, belum ada serah terima resmi dari pihak pembangunan kepada pengelola masjid. Kondisi ini menyebabkan operasional masjid berjalan tidak teratur.

Informasi yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa sementara waktu, pengelolaan takmir diambil alih oleh kepala desa setempat.

Langkah ini dianggap hanya sebagai solusi sementara yang tidak menyelesaikan permasalahan utama, yakni pembentukan struktur kepengurusan takmir yang resmi dan independen.

Tarikan parkir dan pedagang yang tidak tertata. Permasalahan lain yang mencuat adalah adanya tarikan parkir bagi pengunjung masjid.

Warga mempertanyakan transparansi pengelolaan dana hasil parkir tersebut, mengingat belum ada kejelasan mengenai aliran dan penggunaannya.
Selain itu, keberadaan pedagang kaki lima di sekitar masjid juga menjadi perhatian.

Banyak pedagang berjualan tanpa penataan yang rapi, sehingga mengganggu arus lalu lintas di sekitar area masjid. “Pedagang berjualan di sembarang tempat, dan sering kali membuat lalu lintas macet. Tidak ada manajemen yang jelas untuk mereka,” keluh seorang warga.

Kondisi ini menambah kesan semrawut di sekitar kawasan masjid yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman bagi jamaah dan wisatawan religi.

Sampah pengunjung yang tidak terkelola persoalan lain yang juga menjadi sorotan adalah pengelolaan sampah dari pengunjung.

Banyaknya pengunjung yang membuang sampah sembarangan membuat lingkungan sekitar masjid menjadi kumuh.

Minimnya fasilitas tempat sampah serta kurangnya kesadaran pengunjung semakin memperparah kondisi ini. Hal ini tentunya bertentangan dengan visi masjid sebagai pusat wisata religi yang bersih dan nyaman.

Harapan Warga untuk Pembenahan
Masyarakat berharap agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Transparansi dalam pengelolaan masjid, pembentukan kepengurusan takmir yang resmi, sistem parkir yang lebih terstruktur, serta pengelolaan pedagang dan sampah yang lebih baik menjadi beberapa poin utama yang perlu dibenahi.

Masjid An-Nahdla sejatinya dibangun untuk menjadi simbol persatuan dan pusat keagamaan masyarakat Bojonegoro. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, hal ini justru dapat menimbulkan konflik dan mencoreng tujuan awal pembangunannya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepala desa dan kecamatan yang dihubungi melalui WhatsApp belum memberikan tanggapan terkait permasalahan ini.

Tim

Tinggalkan Balasan