Lampung Selatan, Transpos.id. — Keindahan pesisir Kalianda kembali menjadi panggung pertemuan hangat antara komunitas dan alam. Bertempat di Cafe Resto Aurora Beach yang berada di kawasan wisata Pantai Ketang Way Urang, pelantikan pengurus Willys Lampung Community (WLC) Korwil Lampung Selatan pada Selasa, 17 Maret 2026 menjadi lebih dari sekadar seremoni—ia menjelma perayaan kecil atas pesona daerah.
Acara yang diawali dengan buka puasa bersama itu menghadirkan nuansa akrab, di mana semilir angin laut berpadu dengan canda tawa para peserta. Di tempat yang sama, dengan latar debur ombak yang tenang, Hi. Novolin, Ch.SE., M.Si resmi dinobatkan sebagai Ketua WLC Korwil Lampung Selatan periode 2026–2029 oleh Henry K. Yuza. Ia juga dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Musyawarah Nasional ke-14 Persatuan Penggemar American Jeep Indonesia (PPAJI).
Namun lebih jauh, peristiwa ini seperti membuka tirai bagi panggung yang lebih besar: JAMNAS PPAJI 2026.
Wisata, Komunitas, dan Perjalanan yang Menyatu
Direncanakan berlangsung antara Agustus hingga Oktober 2026 di Kalianda, Jamnas PPAJI akan membawa ribuan pecinta Jeep dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka tidak hanya datang untuk berkumpul, tetapi juga untuk menyusuri lanskap Lampung Selatan—dari garis pantai hingga jalur-jalur petualangan yang masih alami.
Kawasan Pantai Ketang Way Urang sendiri menawarkan panorama laut yang terbuka, hamparan pasir, serta suasana senja yang perlahan jatuh seperti bait puisi lama. Sementara Cafe Resto Aurora Beach menjadi ruang singgah—tempat para pelancong melepas lelah, meneguk cerita, dan menyusun kenangan.
Menghidupkan “Bumi Ragom Mufakat”
Momentum ini menjadi kesempatan emas untuk memperkenalkan Lampung Selatan sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Dengan semangat “Bumi Ragom Mufakat”, keramahan masyarakat dan kekayaan alam berpadu menjadi daya tarik yang tak sekadar dilihat, tetapi dirasakan.
Jejak roda Jeep kelak akan melintasi jalan-jalan pesisir, menembus hijaunya daratan, dan berhenti di titik-titik keindahan yang selama ini setia menunggu untuk ditemukan.
Di Kalianda, perjalanan bukan hanya tentang ke mana kita pergi—melainkan tentang bagaimana alam, manusia, dan cerita saling menyapa dalam satu waktu. Dan dari sanalah, pariwisata menemukan jiwanya. (red)









