Pasuruan, transpos.id – Ruwat Desa merupakan tradisi turun temurun dari Nenek Moyang. Tradisi itu sebagai wujud Rasa syukur seluruh warga atas limpahan rezeki yang di berikan oleh Allah SWT dan berdoa agar segala hal buruk buruk dijauhkan dari Desa ini dan berharap agar Masyarakat Desa Panditan tersebut dapat hidup tentram dan makmur damai. Aman Santosa, kamis (28/6/24), Jam 18:00.
Kades Dodik menyampaikan waktu di wawancara Desa Panditan, Kecamatan Lumbang mengadakan Ruwatan Desa atau Selamatan Desa di tahun 2024 Pada Hari Kamis malam Jum’at tanggal 28 bulan juni.
Namun acara Ruwatan kali ini berbeda dengan tahun yang sebelumnya, yaitu karena tahun yang lalu sedang terjadi Penyebaran PMK, dan agar mencegah penyebaran PMK penyakit mulut dan kaki pada ternak sapi pera.
Maka acara kali ini lebih semeriah di banding tahun lalu, acara Saat ini Ruwatan atau Selamatan Desa sungguh luwar Biasa, juga digelar paginya di adakan Hotmil Qur’an di Pondopo dilanjut Malamnya Pengajian Umum di depan Balaidesa Setelah Ruwat Desa satu malam suntuk dan hiburan 2 hari 2 malam.
Kades Didik menambahkan semoga di Tahun yang akan datang lebih baik lagi, “Saya sangat bersyukur rasa syukur dengan adanya tambahan 2 Tahun semoga dengan demikian saya bisa membangun Desa yang lebih baik lagi, rasa syukur saya kepada Allah meski se adanya tiga ekor tumpeng ayam semoga bermanfaat untuk Desa khususnya Masyarakat Desa Panditan makmur dan bisa membangun sinergitas, yang kedua saya ucapkan rasa terimkasih kepada Jajaran juga kepada Seluruh Warga Masyarakat Desa Panditan, atas kekompakan dan antusiasnya,” imbuhnya.
Dalam Acara Saat ini di hadiri oleh Muspika dan Kapolsek Lumbang AKP Bambang Soessilo, Camat Lumbang Bambang Suhartono SE MM, Danramil Lumbang kapten zzi Sutiyono Dan staf.
Tokoh Masyarakat siap ikut serta yaitu yang terhormat Ustazd Sumiarso, dua sesepuh Edi yang ke tiga Ngatiman dan Tokoh Agama Ustadz Badrus Sofi dari Rembang serta semua Masyarakat Desa Panditan.
Salah satu warga juga menyampaikan dengan adanya Ruwat Desa ini sangat merasa nyaman penuh doa para kiyai Sejuk. Karena itu tradisi yang tidak bisa di tinggalkan dari Nenek Moyang dahulu tetap terus di laksanakan Sebaik Mungkin. (Nasor)








