Londo Ireng: Dari Seragam Kolonial ke Jas Kekuasaan

Sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti pakaian.

Di masa kolonial, kita mengenal istilah Londo Ireng—pribumi yang berdiri di barisan penjajah, menjadi serdadu, aparat, dan perpanjangan tangan kekuasaan asing. Banyak dari mereka tergabung dalam struktur militer kolonial seperti KNIL, atau menjadi bagian dari administrasi yang menopang sistem tanam paksa dan penindasan sosial.

Mereka bukan orang asing. Mereka lahir dari rahim yang sama, menyusu pada tanah yang sama. Namun pilihan politik dan ekonomi membuat mereka berdiri berseberangan dengan bangsanya sendiri.

Kolonialisme memahami satu hal penting: untuk menaklukkan bangsa besar, tidak cukup hanya dengan meriam. Harus ada yang memegang pintu dari dalam.

Politik Pecah Belah dan Ilusi Kekuasaan

Strategi divide et impera bukan sekadar taktik perang, melainkan rekayasa psikologis. Pribumi diberi jabatan, seragam, dan pengakuan semu. Sebuah ilusi status yang menenangkan ego, sekaligus mengikat loyalitas.

Di atas kertas mereka tampak berkuasa.
Dalam kenyataan, mereka hanyalah perantara.

Ironinya, dalam banyak catatan sejarah, justru tangan-tangan lokal itulah yang paling keras memukul rakyatnya sendiri. Seolah untuk membuktikan kesetiaan, mereka harus tampil lebih tegas daripada tuannya.

Pertanyaannya: apakah mentalitas semacam itu benar-benar lenyap setelah proklamasi kemerdekaan?

Pengkhianatan dalam Wajah Modern

Kemerdekaan politik telah kita raih. Namun kemerdekaan moral dan integritas masih terus diperjuangkan.

Hari ini, bentuk pengkhianatan tidak lagi memakai helm baja dan senapan. Ia mengenakan jas resmi, duduk di kursi empuk parlemen, kementerian, lembaga hukum, hingga badan usaha milik negara. Ia berbicara tentang pembangunan, tetapi menandatangani kontrak yang menguntungkan segelintir pihak.

Korupsi anggaran publik, suap proyek infrastruktur, manipulasi regulasi, hingga praktik nepotisme—semua itu adalah bentuk baru dari pengabdian pada kuasa, bukan pada bangsa.

Jika dahulu loyalitas diberikan pada pemerintah kolonial, kini loyalitas bisa berpindah pada oligarki modal, jaringan politik, atau kepentingan pribadi. Rakyat kembali menjadi penonton. Bahkan sering kali menjadi korban.

Dalam konteks inilah istilah Londo Ireng menemukan relevansi simboliknya: bukan sebagai label etnis atau keturunan, melainkan sebagai kritik terhadap mentalitas.

Mentalitas yang menukar idealisme dengan fasilitas.
Mentalitas yang menjual kebijakan demi posisi.
Mentalitas yang merasa aman selama berada dekat dengan pusat kuasa.

Bahaya Erosi dari Dalam

Sejarah menunjukkan bahwa bangsa besar jarang runtuh karena serangan frontal. Ia melemah perlahan karena pembusukan internal. Ketika hukum dapat dinegosiasikan, ketika jabatan dianggap investasi, ketika pengawasan dilemahkan demi kenyamanan elite—di situlah fondasi negara mulai retak.

Yang lebih berbahaya bukan sekadar tindakan korupsi itu sendiri, melainkan normalisasi atasnya. Ketika publik mulai berkata, “Memang begitu sistemnya,” maka integritas telah kehilangan maknanya.

Kita perlu jujur: tidak semua pejabat adalah pengkhianat. Banyak yang bekerja dengan dedikasi dan integritas tinggi. Namun sistem yang permisif terhadap penyalahgunaan wewenang akan selalu melahirkan generasi baru oportunis.

Dan di titik itulah sejarah kolonial memberi pelajaran pahit: kekuasaan tanpa integritas hanya melahirkan penindasan dalam bentuk yang berbeda.

Mengingat Tanpa Membenci

Membicarakan Londo Ireng bukan untuk membangkitkan dendam masa lalu. Sejarah bukan alat balas dendam. Ia adalah alat refleksi.

Kita tidak sedang mengadili keturunan siapa pun. Kita sedang menguji diri sendiri: kepada siapa kesetiaan itu diberikan hari ini?

Apakah kepada konstitusi dan kepentingan rakyat?
Atau kepada jaringan kekuasaan yang menjanjikan kenyamanan pribadi?

Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajah asing. Ia adalah kebebasan dari mentalitas pengkhianatan—dari kebiasaan menjilat ke atas dan menekan ke bawah.

Jika dahulu penjajah datang dari seberang lautan, kini ancaman bisa tumbuh dari dalam ruang rapat yang berpendingin udara.

Sejarah telah memperingatkan.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita mau belajar, atau kembali mengulangnya dalam babak yang berbeda ?

Oleh: kiagus Bambang Utoyo

Tinggalkan Balasan