Tuban – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai masa depan bangsa, justru berubah menjadi mimpi buruk di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.
Pasalnya, sebuah insiden memuakkan pecah ketika Dapur MBG di wilayah tersebut kedapatan mendistribusikan paket makanan yang lebih layak disebut limbah daripada asupan gizi.
Niat hati memberi manfaat, apa daya nyawa anak-anak justru dijadikan taruhan. Paket berisi pisang cokelat (piscok) dan telur rebus itu disandingkan dengan sebotol susu kedelai yang kondisinya sudah busuk. Bukannya rasa gurih, aroma asam yang menusuk hidung seketika menyambut para siswa saat botol dibuka.
Berdasarkan laporan lapangan mengonfirmasi bahwa susu kedelai tersebut telah mengalami kerusakan fatal, cairannya pecah dan mengeluarkan bau bangkai nabati yang menyengat.
Secara medis, cairan ini adalah sarang bakteri patogen yang siap memicu kram perut hebat hingga dehidrasi akut.Salah satu saksi mata di lokasi mengecam keras ketidaksigapan pengawasan ini.
“Sangat disayangkan, program sebagus ini dicoreng oleh kurangnya pengawasan mutu. Susu kedelai itu cairannya sudah berubah, baunya sangat tidak enak. Bagaimana jika sampai tertelan oleh anak sekolah?” cetus sumber tersebut dengan nada geram.
Masyarakat kini menuding tajam operasional Dapur MBG yang berlokasi di RT 07 RW 07 tersebut. Pertanyaan besar menyeruak, Apakah ini murni kelalaian dalam penyimpanan atau kesengajaan demi menekan biaya.
Namun Hingga berita ini dipublikasikan, pihak pengelola masih bungkam seribu bahasa, seolah mencuci tangan dari lolosnya produk beracun ke tangan siswa.
Insiden yang kini dijuluki sebagai Kamis Kelabu ini menjadi tamparan keras bagi penyedia jasa makanan di Tuban. Warga menuntut Satgas TNI dan Polri tidak tinggal diam. Penyelidikan tuntas wajib dilakukan sebelum terjadi keracunan massal yang merenggut nyawa.
Sementara Kepala Desa setempat, Mundir, secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaannya. Ia mendesak yayasan pengelola untuk berhenti bermain-main dengan nyawa anak-anak.
“Yayasan yang menggunakan ahli gizi harus sering melakukan pengamatan terkait makanan dan minuman yang disuguhkan agar tidak menjadikan masalah atau bencana di lain hari,” tegas Mundir menutup pembicaraan.









