Bupati Lamsel Radityo Egi Ingatkan Lingkaran Dekatnya: Jangan Jumawa, Jabatan Hanya Titipan

Lampung Selatan, Transpos.id. – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, memberikan peringatan tegas kepada seluruh pihak yang merasa menjadi bagian dari tim atau lingkaran dekatnya. Ia menegaskan agar tidak ada yang memanfaatkan kedekatan atau nama besarnya untuk tindakan yang merugikan orang lain atau berbuat semena-mena.

Hal ini disampaikannya dalam forum diskusi bertajuk Pentahelix yang digelar rutin dan terbuka untuk umum setiap malam Kamisan. Dalam kesempatan itu, ia kembali menekankan filosofi bahwa jabatan dan kekuasaan bersifat sementara dan roda kehidupan pasti berputar.

“Makanya melalui forum ini saya juga berpesan kepada siapapun yang merasa bagian dari circle, merasa bagian dari tim saya ini: dalam konteks jangan sampai jumawa. Jangan manfaatkan kedekatan dengan saya untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat,” tegas Radityo Egi.

“Buat apa? Masa saya jadi Bupati juga ada masanya. Pakailah hal tersebut untuk hal-hal yang positif. Jangan merasa dekat dengan Bupati, lalu merasa bisa membodohi orang, berbuat seenaknya di desa atau di tempat lain. Itu salah. Ingat, roda itu berputar,” tambahnya.

*Jangan Rendah Diri, Tapi Rendah Hati*

Bupati juga menginginkan agar setiap individu mampu mengeluarkan potensi terbaiknya tanpa merasa minder.

“Dan juga jangan merasa bahwa yang tidak berada di posisi itu akhirnya merasa rendah diri, sehingga potensi yang dimiliki tidak muncul dan tidak keluar. Kita harus bisa explore kemampuan kita,” ujarnya.

Hal ini ia ilustrasikan dari pengalaman nyata perjalanan daerahnya. Awalnya, Lampung Selatan belajar ke Banyuwangi, namun setahun kemudian justru Banyuwangi dan daerah lain yang datang belajar ke Lampung Selatan, khususnya terkait pengelolaan SBP yang kondusif.

“Di awal kami yang belajar ke sana, saya boyong rombongan. Tidak disangka setahun kemudian cashback, mereka belajar ke kita. Mereka ingin tahu bagaimana kita mengelola daerah sehingga kondusif, tidak banyak demo, stabil, tenang, dan iklimnya sehat. Ini menjadi pembelajaran bersama,” paparnya.

*Analogi Restoran dan Jabatan Titipan*

Radityo Egi membandingkan jabatan dengan sebuah bisnis. Menurutnya, seringkali orang berani berbuat semena-mena hanya karena mengenal pemiliknya.

“Bagi saya, jabatan itu titipan. Biasa lah, kan kalau kita punya teman yang punya restoran, biasanya lebih berani bilang: ‘Oh itu restoran temen gue, lu dateng sana aja, gampang lah dapet diskon’. Padahal tindakan itu merugikan yang punya owner-nya. Benar nggak?” tanyanya retoris.

“Kalau di sini cuma 15 kabupaten/kota, kalau di provinsi kan 27, segede Musi Banyuasin dengan 40 juta penduduk. Jadi kita tetap harus menghargai. Kita tetap harus rendah hati, bukan rendah diri, karena tidak selamanya apa yang sekarang kita rasakan di atas, kita akan ada di posisi itu,” tegasnya.

*Komitmen Pemerintahan Inklusif dan Terbuka*

Menutup pesannya, Bupati Radityo Egi kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan konsep Pentahelix dan pemerintahan yang inklusif.

“Saya berkomitmen dari awal sampai hari ini menguatkan pemerintahan yang inklusif dan terbuka. Indikatornya? Saya membagikan aktivitas kegiatan saya melalui media sosial. Saya tidak tutup mata, ada yang ngomong, kritik, menghujat, memuji, silakan saja. Itu demokrasi,” ungkapnya.

“Namun prinsip saya tetap satu, saya menjalankan amanah ini dengan niat baik dan hati yang bersih,” pungkas Bupati Radityo Egi Pratama. (red)

Tinggalkan Balasan