Tuban – Rencana reaktivasi sumur minyak tua di Lapangan Tawun, Desa Kumpulrejo, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban yang dijalankan oleh PT Tawun Gegunung Energi (PT TGE) selaku mitra Kerja Sama Operasional (KSO) PT Pertamina EP justru memicu gelombang pergolakan sosial yang makin memanas.
Warga setempat tidak tinggal diam. Secara tegas mereka membentangkan spanduk tuntutan berukuran besar tepat di depan area menara pengeboran atau rig sebagai tanda ketidaksetujuan dan peringatan keras. Melalui aksi tersebut, masyarakat mendesak perusahaan untuk segera menghentikan seluruh aktivitas lapangan hingga diadakan pertemuan terbuka di Balai Desa Kumpulrejo.
Bagi warga, sosialisasi bukan sekadar formalitas, melainkan gerbang utama untuk mendapatkan kepastian hukum dan perlindungan. Dalam dialog itu, warga berhak menanyakan kejelasan izin, pelaksana proyek, keuntungan bagi warga, serta cara perusahaan mengantisipasi risiko lingkungan dan keselamatan. Warga ingin proyek berjalan transparan, bukan penuh kecurigaan.
Selain masalah keterbukaan informasi, keluhan paling nyata datang dari kerusakan parah infrastruktur. Jalan poros kecamatan yang menjadi urat nadi perekonomian desa kini berlubang dan rusak di banyak titik. Hal ini disebabkan lalu lalang truk besar milik PT TGE yang mengangkut alat berat setiap hari tanpa henti.
“Kendaraan besar milik proyek lewat tiap hari bawa beban berat, sepanjang jalan poros kecamatan jadi rusak parah,” ungkap salah satu perwakilan warga, Jumat (3/7/2026).
Kondisi jalan yang rusak diperparah oleh ukuran kendaraan yang terlalu besar. Karena jalan sempit, truk besar itu sering kali memblokir jalan hingga kendaraan lain tidak bisa berpapasan. Pengendara motor dan mobil terpaksa turun ke bahu jalan yang tidak stabil, sangat berbahaya terutama saat jam anak sekolah berangkat pulang atau di malam hari.
Pemerintah Desa Kumpulrejo turut mendukung sikap warga dan meminta PT TGE segera menurunkan ego korporasi. Perusahaan diminta datang ke balai desa untuk memaparkan dokumen AMDAL, rencana pengaturan lalu lintas, serta komitmen tertulis untuk memperbaiki jalan yang rusak.
Spanduk yang terbentang itu disebut warga sebagai peringatan terakhir. Jika tidak dihiraukan, warga siap melakukan aksi lebih besar.
“Kami masih coba jalur musyawarah. Tapi kalau spanduk ini dianggap angin lalu, Insya Allah kami akan bertindak lebih tegas. Bahkan opsi penutupan jalan secara swadaya sudah kami bahas,” tegas Ali (42), salah satu tokoh warga.
Ia menegaskan pesan yang sangat jelas: “Mereka harus datang dengan sopan, berdialog, dan berkomitmen perbaiki jalan serta memberikan kejelasan manfaat. Kalau tetap merusak dan menutup mata, masyarakat yang akan menghentikan paksa proyek itu.”
Hingga berita ini dinaikan, awak media terus berupaya menghubungi manajemen PT TGE maupun Humas PT Pertamina EP guna mendapatkan tanggapan resmi terkait protes keras dan ancaman aksi warga ini
Protes Keras di Lapangan Tawun: Warga Kumpulrejo Bentang Spanduk Besar, Minta PT TGE Hentikan Aktivitas & Segera Sosialisasi








