Lampung Selatan, Transpos.id. – Di tengah perubahan cepat industri pariwisata global, koperasi kepariwisataan dinilai perlu dihidupkan kembali dengan wajah modern untuk menjadi pusat penggerak wisata daerah. Usulan itu disampaikan Kgs Dedi Miryanto, S.E., http://M.Si., ASN Pemkab Lampung Selatan, dalam tulisannya berjudul _“Spirit of Krakatoa”: Koperasi Pariwisata sebagai Pusat Penggerak Wisata Baru Lampung Selatan di Tengah Gelombang Industri Wisata Global_.
Menurut penulis, pariwisata saat ini sudah berubah menjadi ekosistem besar yang digerakkan teknologi, gaya hidup, dan perilaku wisatawan modern. Wisatawan ingin serba praktis: memesan hotel lewat aplikasi, membeli tiket digital, mencari destinasi tersembunyi lewat media sosial, hingga menikmati pengalaman wisata yang dipersonalisasi.
Namun, banyak pelaku usaha wisata daerah masih bergerak secara tradisional. Pengelola pantai kuat menjaga alam tetapi lemah promosi digital. UMKM kuliner unggul rasa tetapi kalah kemasan. Desa wisata indah tetapi belum terhubung ke pasar nasional. Akibatnya, potensi besar sering berhenti menjadi “tempat singgah,” bukan destinasi unggulan.
Koperasi Modern sebagai Terminal Bersama
Kgs Dedi menekankan, koperasi pariwisata modern bisa menjadi solusi. Bukan koperasi konvensional yang hanya identik simpan pinjam dan rapat tahunan, melainkan koperasi yang berfungsi sebagai pusat penghubung wisata, ekosistem ekonomi kreatif, pasar digital bersama, sekaligus mesin penggerak usaha kolektif.
Ia mengibaratkan pelaku wisata lokal—pemilik homestay, nelayan wisata, pemandu snorkeling, penjual kopi, fotografer, pengrajin suvenir, hingga pengelola media sosial—sebagai pihak-pihak hebat yang berjalan sendiri-sendiri. Akibatnya promosi terpecah, harga tidak stabil, wisatawan bingung, dan keuntungan sering dinikmati pihak luar.
“Kalau sendiri hanya menjadi kios kecil, bersama bisa menjadi bandara wisata,” tulisnya.
“Spirit of Krakatoa” sebagai Identitas Wisata
Lampung Selatan, menurut penulis, memiliki identitas kuat yang tidak dimiliki banyak daerah: “Spirit of Krakatoa.” Nama Krakatau sudah mendunia dan menjadi simbol energi, ketangguhan, perubahan, dan kebangkitan. Identitas ini dapat menjadi fondasi pengembangan wisata bahari, alam berkelanjutan, geopark, budaya, hingga wisata kreatif berbasis masyarakat lokal.

Lampung Selatan juga memiliki modal wisata besar: pesisir, panorama Selat Sunda, potensi Krakatau, wisata bahari, kuliner khas, budaya pesisir, hingga ekonomi kreatif lokal. Ditambah tumbuhnya fotografi wisata, konten digital, UMKM kreatif, fesyen lokal, kriya, seni pertunjukan, dan oleh-oleh.
Masalahnya, potensi-potensi itu belum terhubung dalam satu jalur ekonomi wisata yang terintegrasi. Koperasi dinilai bisa menjadi “pengelola perjalanan bersama” yang menyatukan seluruh rantai usaha wisata daerah.
Menjawab Tantangan Era Digital dan Wisata Berkelanjutan
Penulis mengingatkan, wisatawan modern menilai pelayanan, keamanan, kemudahan transaksi, kualitas digital, hingga ulasan online. Banyak pelaku lokal terkendala manajemen tradisional, rendahnya teknologi, standar pelayanan belum seragam, minim akses modal, dan lemah membangun jaringan pasar.
Di era tren wisata berkelanjutan, berbasis alam, dan pengalaman lokal autentik, Lampung Selatan memiliki peluang emas. Kawasan pesisir, wisata bahari, budaya lokal, dan potensi geopark bisa menjadi magnet wisata baru. Koperasi dapat menyusun pengalaman wisata lokal yang lebih autentik dan kompetitif.
Di ruang digital, koperasi juga perlu masuk ke wisata digital, pengelolaan destinasi cerdas, dan teknologi ekonomi kreatif. Mulai dari aplikasi pemesanan wisata, pasar digital UMKM, platform wisata terpadu, pembayaran digital, tur virtual, hingga promosi berbasis kecerdasan buatan.
*Mitigasi Ancaman dan Manfaat bagi Masyarakat*
Penulis mengingatkan ancaman masuknya investor besar dan platform global yang dapat menggeser pelaku lokal. Ada pula risiko kerusakan lingkungan akibat eksploitasi wisata yang tidak terkendali. Koperasi penting hadir sebagai pelindung ekonomi masyarakat, penyeimbang sosial, dan penjaga budaya lokal.
Manfaatnya dirasakan berbagai pihak: pelaku wisata mendapat akses modal, promosi bersama, dan jaringan pasar luas; UMKM kreatif lebih mudah masuk pasar; pemerintah daerah meningkatkan PAD dan lapangan kerja; generasi muda mendapat ruang usaha digital dan inovasi wisata.
Model yang diusulkan adalah ekosistem koperasi pariwisata terpadu berbasis wisata berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, konektivitas digital, dan percepatan ekonomi kreatif. Pengembangan mencakup tata kelola koperasi wisata, pengelolaan destinasi modern, sistem pembiayaan inklusif, integrasi wisata digital, dan penguatan rantai ekonomi kreatif lokal, dengan sinergi Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi, pemerintah daerah, Pokdarwis, UMKM, dan komunitas kreatif.
*Penutup: Pariwisata adalah Kolaborasi*
“Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya tentang mendatangkan wisatawan. Tetapi tentang siapa yang menikmati manfaat ekonominya, siapa yang menjaga alamnya, dan siapa yang tetap berdiri ketika tren wisata berubah,” tulis Kgs Dedi.
Ia menegaskan, koperasi adalah kendaraan gotong royong modern agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton di tengah ledakan industri wisata global. Dengan “Spirit of Krakatoa,” Lampung Selatan memiliki peluang membangun pariwisata yang berdaya saing, berbasis masyarakat, berkelanjutan, dan terkoneksi dengan ekonomi kreatif digital masa depan.
Penulis : Dedi Miryanto, S.E, M.Si
(ASN PEMKAB LAM-SEL)









