Berita  

Waspada PPOK Mengintai Lansia Magetan, dr. Fandi RSUD Sayidman Imbau Warga Setop Merokok dan Jaga Imunitas di Musim Pancaroba

Magetan – Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau yang populer dikenal masyarakat dengan istilah ‘paru molor’ menjadi salah satu keluhan penyakit yang paling mendominasi di Kabupaten Magetan.

Hal ini diungkapkan langsung oleh spesialis paru, dr. Ahmad Samsul Fandi Rozi, Sp.P., saat ditemui di sela-sela pelayanan kesehatannya.

Dokter yang akrab disapa dr. Fandi ini menjelaskan bahwa poliklinik paru sebenarnya menyediakan cakupan pelayanan yang sangat luas. Mulai dari penanganan penyakit obstruksi seperti PPOK dan asma, penyakit infeksi paru seperti Tuberkulosis (TBC) dan pneumonia, hingga penanganan kondisi khusus seperti penumpukan cairan di paru-paru serta tumor paru.

Kabar baiknya, hampir seluruh pelayanan medis di poliklinik paru ini telah mendukung penuh program jaminan kesehatan pemerintah.

“Alhamdulillah sementara masih bisa semua. Kita bisa melayani pasien BPJS, kecuali mungkin untuk kasus tumor paru ya. Kalau tumor paru, ada beberapa kriteria atau indikasi medis tertentu yang harus dipenuhi terlebih dahulu agar bisa diakomodasi,” ujar dr. Fandi

Rokok dan Pancaroba Jadi Pemicu Utama PPOK pada Lansia

Terkait profil demografi pasien di Magetan, dr. Fandi mengungkapkan bahwa mayoritas penderita gangguan paru-paru didominasi oleh kelompok lanjut usia (lansia).

“Kebanyakan pasien yang terkena berada di rentang usia 65 tahun ke atas. Pada usia tersebut, kondisi daya tahan tubuh kita secara alami memang sudah sangat berkurang sekali,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Fandi menegaskan bahwa penyebab utama dari tingginya angka kasus PPOK di Magetan adalah paparan asap, terutama kebiasaan merokok. Zat berbahaya yang terkandung di dalam rokok dan dihirup dalam jangka panjang menjadi dalang utama rusaknya saluran pernapasan.
Selain faktor perilaku, dr. Fandi juga menyoroti faktor eksternal seperti cuaca ekstrem atau musim pancaroba yang saat ini sedang berlangsung.

Perubahan cuaca yang tidak menentu—seperti peralihan instan dari dingin ke panas yang disertai angin kencang—secara signifikan dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, khususnya pada organ paru.

“Cuaca pancaroba ini memengaruhi kekebalan tubuh di bagian paru, sehingga (imunitas) berkurang. Otomatis pasien akan jadi lebih mudah terkena penyakit infeksi atau mengalami serangan sesak napas,” tambahnya.

dr.Fandi juga mengingatkan bahwa jika kondisi pasien sudah dalam fase darurat (tidak stabil) akibat infeksi akut, penanganan utama sebaiknya segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) atau Puskesmas terdekat, bukan melalui kontrol poliklinik biasa.

Tips Antisipasi: Setop Rokok dan Jaga Pola Hidup

Guna menekan dan mengeliminasi angka penderita gangguan pernapasan di Magetan, dr. Fandi memberikan pesan edukasi yang kuat kepada masyarakat agar menerapkan langkah-langkah preventif sejak dini.

Langkah paling krusial adalah memutus rantai penyebab utamanya, yaitu rokok. Masyarakat diimbau untuk sebisa mungkin menghindari asap rokok. “Karena penyebab utamanya rokok, maka otomatis rokoknya harus sebisa mungkin dihilangkan, atau minimal dikurangi,” tegas dr. Fandi.

Sebagai penutup, Dokter RSUD Sayidiman ini mengingatkan pentingnya menjaga benteng pertahanan tubuh di tengah cuaca yang kurang bersahabat seperti saat ini.

“Yang kedua adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Contohnya dengan istirahat yang cukup dan jangan sembarangan mengonsumsi makanan atau minuman yang kurang sehat, terutama saat kondisi fisik sedang menurun,” pungkasnya.(Bolang)

Tinggalkan Balasan